Langsung ke isi
Menu

Ketika kebahagiaan menjadi komoditas: membaca krisis manusia digital melalui pemikiran Al-Farabi

Tulisan guruRohmatulloh, S.S., Guru Bahasa Arab

Di tengah derasnya arus media sosial dan perkembangan teknologi digital, manusia modern tampaknya memiliki semakin banyak alasan untuk merasa bahagia. Berbagai kemudahan tersedia hanya dengan sentuhan jari. Barang-barang yang diinginkan dapat dibeli dalam hitungan detik, popularitas dapat diraih melalui unggahan yang viral, dan pengakuan sosial diukur dari jumlah likes, followers, maupun komentar yang diterima. Namun, di balik semua kemudahan tersebut, muncul sebuah pertanyaan mendasar: mengapa justru semakin banyak orang merasa cemas, hampa, dan tidak pernah benar-benar puas?

Fenomena ini oleh para psikolog dikenal sebagai hedonic treadmill, yaitu kecenderungan manusia untuk terus mengejar kesenangan baru tanpa pernah mencapai kepuasan yang bertahan lama. Setelah memperoleh sesuatu yang diinginkan, rasa bahagia hanya berlangsung sesaat sebelum akhirnya kembali ke titik semula. Akibatnya, seseorang terdorong untuk terus membeli, memiliki, dan mencari validasi baru. Kebahagiaan pun berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah memiliki garis akhir. Fenomena tersebut menjadi salah satu ciri paling nyata dari masyarakat digital dewasa ini.

Sayangnya, budaya seperti ini tidak hanya membentuk pola konsumsi, tetapi juga cara manusia memahami makna hidup. Nilai seseorang sering kali diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari siapa dirinya. Media sosial memperkuat ilusi tersebut melalui budaya flexing, gaya hidup konsumtif, hingga obsesi terhadap citra diri yang sempurna. Dalam kondisi demikian, kebahagiaan direduksi menjadi sekadar kepemilikan materi, kenyamanan fisik, dan pengakuan publik. Padahal, semua itu bersifat sementara dan mudah menghilang.

Jika kondisi ini dibaca melalui perspektif filsafat Islam, khususnya pemikiran Abu Nashr Al-Farabi, kita menemukan kritik yang sangat relevan meskipun beliau hidup lebih dari seribu tahun yang lalu. Al-Farabi membedakan secara tegas antara ladzat (kenikmatan) dan sa’adah (kebahagiaan sejati). Kenikmatan hanyalah pengalaman sesaat yang berasal dari pemuasan kebutuhan indrawi, sedangkan kebahagiaan merupakan kondisi jiwa yang lahir dari kesempurnaan akal, kematangan moral, pencarian ilmu, dan kedekatan kepada Tuhan. Dengan kata lain, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang dibeli, melainkan sesuatu yang dibangun melalui proses pembentukan diri.

Perspektif Al-Farabi menjadi kritik tajam terhadap budaya digital saat ini. Banyak orang mengira bahwa semakin tinggi pendapatan, semakin mahal barang yang dimiliki, atau semakin banyak pengikut di media sosial, maka semakin tinggi pula tingkat kebahagiaannya. Padahal, logika tersebut justru melahirkan siklus ketidakpuasan yang tidak pernah berakhir. Ketika satu keinginan terpenuhi, lahir keinginan baru yang lebih besar. Akibatnya, manusia tidak lagi menjadi pengendali atas hasratnya, melainkan menjadi budaknya.

Dalam pandangan Al-Farabi, kondisi tersebut menunjukkan kegagalan akal dalam memimpin jiwa. Seharusnya akal mengarahkan insting dan keinginan menuju kebaikan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya: akal digunakan untuk membenarkan hawa nafsu. Kecerdasan dimanfaatkan untuk merancang strategi pemasaran yang manipulatif, menciptakan algoritma yang membuat pengguna terus berbelanja, atau mencari jalan tercepat memperoleh keuntungan tanpa mempertimbangkan dimensi moral. Rasionalitas kehilangan fungsinya sebagai penuntun kebijaksanaan dan berubah menjadi alat pemuas keinginan.

Lebih jauh lagi, Al-Farabi mengingatkan bahwa persoalan ini bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah peradaban. Ia menyebut masyarakat yang mengetahui kebenaran tetapi tetap memilih kehidupan yang dikuasai hawa nafsu sebagai al-madinah al-fasiqah. Bukankah gambaran tersebut terasa begitu dekat dengan realitas sekarang? Kita memahami dampak buruk konsumsi berlebihan terhadap kesehatan mental, lingkungan, bahkan ketimpangan sosial. Namun, pengetahuan itu sering kali tidak mengubah perilaku. Kita tetap terdorong membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, mengikuti tren demi pengakuan, dan menjadikan teknologi sebagai alat kompetisi status sosial.

Karena itu, solusi yang ditawarkan Al-Farabi tetap relevan untuk menjawab krisis manusia digital. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan individu yang kompeten secara teknis, tetapi juga matang secara moral. Ilmu pengetahuan harus mengarahkan manusia kepada kebijaksanaan, bukan sekadar produktivitas ekonomi. Kebahagiaan tidak boleh diukur dari apa yang dikonsumsi, melainkan dari kemampuan seseorang mengembangkan akal, memperbaiki karakter, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di era kecerdasan buatan, media sosial, dan ekonomi digital, tantangan terbesar manusia sesungguhnya bukanlah kekurangan teknologi, melainkan kehilangan orientasi hidup. Teknologi hanyalah alat. Ia dapat menjadi sarana kemajuan, tetapi juga dapat menjadi mesin yang terus-menerus mengeksploitasi hasrat manusia apabila tidak dikendalikan oleh etika.

Pada akhirnya, pemikiran Al-Farabi mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak pernah lahir dari tumpukan barang, banyaknya pengikut, atau tingginya popularitas. Kebahagiaan bertumbuh ketika manusia mampu menempatkan akal sebagai pemimpin, mengendalikan hasrat, memperkaya diri dengan ilmu, membangun karakter yang luhur, dan mengarahkan seluruh aktivitas hidupnya kepada kebaikan yang lebih tinggi. Di tengah dunia yang semakin bising oleh budaya konsumsi dan pencarian validasi, pesan Al-Farabi justru terasa semakin penting: manusia tidak diciptakan untuk mengejar kenikmatan yang sementara, melainkan untuk mencapai kebahagiaan yang memuliakan akal, jiwa, dan hubungannya dengan Tuhan.

Bagikan
Kembali ke semua kabar